Dampak Kasus Dokter Setyaningrum

Dampak kasus dokter Setyaningrum sangat besar bagi perkembangan hukum kesehatan di Indonesia. Dampak-dampak tersebut adalah:

1. Menimbulkan pro dan kontra atas masuknya hukum dalam dunia kedokteran.

Pada saat itu banyak dokter yang “takut” untuk melakukan tindakan medis. Dokter lebih banyak berhati-hati dengan apa yang diperbuat terhadap pasiennya. Bagi golongan yang pro, hukum itu perlu untuk membatasi sejauh mana kewenangan dokter. Fungsi hukum kesehatan bagi dunia kedokteran yaitu untuk memberikan kepastian dan perlindungan hukum bagi pemberi maupun penerima pelayanan kesehatan. Bagi golongan yang kontra, hukum kesehatan/kedokteran tidak perlu mengatur bagaimana dokter harus berbuat, cukup ada peraturan internal di dalam kedokteran sendiri. Para dokter juga mengerti kewenangan yang harus dia perbuat.

2. Perubahan pola hubungan pasien dan tenaga kesehatan dari paternalistik menjadi partnership.

Paternalistik adalah pola hubungan yang bersifat vertikal seperti hubungan orang tua dengan anak. Analogi yang dapat dikatakan bahwa tidak mungkin orang tua mencelakakan anaknya, pasti orang tua memberikan yang terbaik untuk anaknya. Hubungan ini terjadi sebelum tahun 1980-an. Karakteristik dari pola hubungan pasien dan tenaga kesehatan yang bersifat paternalistik antara lain:

§  Menimbulkan sifat pasrah dari pasien. Dokter sangat dominan (superioristik). Apa yang dikatakan dokter adalah sebuah “undang-undang”. Pasien sangat percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter, tidak ada bantahan sedikitpun.Tingkat kepercayaan pasien terhadap dokter sangat tinggi.

§  Komunikasi verbal sangat intens menimbulkan ikatan batin yang kuat antara dokter/tenaga kesehatan dengan pasien. Dokter sangat mengenal pasien baik riwayat penyakit, maupun dapat dikatan mengenai hal-hal “pribadi”.

§  Pasien tidak sadar akan hak-haknya terutama hak untuk mendapatkan informasi dan hak untuk mendapatkan second opinion. Pasien merasa segan untuk menanyakan informasi yang diperlukan kepada dokter.

§  Teknologi kedokteran belum berkembang

§  Pasien tidak pernah meminta haknya, yang muncul hanya kewajiban, misalnya pasien mematuhi apa yang dikatak oleh dokter dan membayar biaya kesehatan

§  Tenaga kesehatan/dokter tidak pernah dianggap bersalah. Tidak ada gugat menggugat. Hal ini disebabkan karena faktor pendidikan pada saat itu. Rata-rata pendidikan masyarakat masih rendah.

Partnership adalah pola hubungan yang bersifat horizontal. Pasien dianggap sebagai rekan kerja dokter. Hubungan ini terjadi tahun 1979-sekarang. Karakteristik dari pola hubungan pasien dan tenaga kesehatan yang bersifat partnership antara lain:

§  Dokter tidak lagi dominan. Kedudukan dokter dan pasien sejajar. Pasien dianggap sebagai rekan kerja dokter. Pasien menjadi sangat kritis terhadap tindakan medis yang dilakukan dokter. Bantahan sering terjadi jika dirasa ada kekeliruan yang dibuat oleh tenaga kesehatan/dokter.

§  Komunikasi verbal tidak intens antara dokter dan pasien. Dokter merasa tidak punya waktu yang cukup untuk berbincang-bincang dengan pasiennya, sehingga pasien hanya bertanya seperlunya.

§  Pasien dan Tenaga kesehatam/dokter mengenal dan menghormati hak dan kewajiban para pihak.

§  Teknologi kedokteran berkembang dengan pesat

Tenaga kesehatan/dokter merupakan seorang profesional yang dapat diminta bertanggung jawab jika melakukan kesalahan terutama pada kasus malapraktik. Ada gugat menggugat antara pasien dengan dokter.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s